Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Damono
“tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu”
Sementara Kita Saling Berbisik
Sapardi Djoko Damono
Sementara kita saling berbisik
Untuk lebih lama tinggal
Pada debu, cinta yang tinggal berupa
Bunga kertas dan lintasan angka-angla
Ketika kita saling berbisik
Di luar semakin sengit malam hari
Memadamkan bekas-bekas telapak kaki, menyekap sisa-sisa unggun api
Sebelum fajar. Ada yang masih bersikeras abadi.
Di Restoran
Sapardi Djoko Damono
Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
ilalang panjang dan bunga rumput --
kau entah memesan apa. Aku memesan
batu ditengah sungai terjal yang deras --
kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang asing itu.
Bunga 1
Sapardi Djoko Damono
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia rekah di tepi padang waktu hening pagi terbit;
siangnya cuaca berdenyut ketika nampak sekawanan gagak
terbang berputar-putar di atas padang itu;
malam hari ia mendengar seru serigala.
Tapi katanya, “Takut? Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku
ini si bunga rumput, pilihan dewata!”
(ii)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia kembang di sela-sela geraham batu-batu gua pada suatu pagi,
dan malamnya menyadari bahwa tak nampak apa pun dalam gua
itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangm
dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan
hutan terbakar dan setelah api ….
Teriaknya, “Itu semua pemandangan bagi kalian saja, para
manusia! Aku ini si bunga rumput: pilihan dewata!”
Perahu Kertas,Kumpulan Sajak,
1982.
Bunga 2
Sapardi Djoko Damono
mawar itu tersirap dan hampir berkata jangan ketika pemilik
taman memetiknya hari ini; tak ada alasan kenapa ia ingin berkata
jangan sebab toh wanita itu tak mengenal isaratnya — tak ada
alasan untuk memahami kenapa wanita yang selama ini rajin
menyiraminya dan selalu menatapnya dengan pandangan cinta itu
kini wajahnya anggun dan dingin, menanggalkan kelopaknya
selembar demi selembar dan membiarkannya berjatuhan
menjelma
pendar-pendar di permukaan kolam
Perahu Kertas,Kumpulan Sajak,
1982.
Kata Kalimat
Tuesday, March 15, 2016
Puisi Mbeling Remi Silado
Menyingkat Kata
Remy Silado
Celaka 13
Remy Silado
Jerit Sandal Jepit
Remy Silado
Remy Silado
Karena
kita orang
indonesia
suka
menyingkat
kata wr. wb.
maka
rahmat dan
berkah ilahi
pun
menjadi
singkat
dan tidak
utuh buat kitaCelaka 13
Remy Silado
Kalau
jalanan macet pada jam 18.00
padahal
mobilmu korslet lampunya
dan di
garis E bensinnya
lantas kau
kebelet mau berak
celaka 13
kaulah yang paling sial
seperti
berada di ambang kiamat setengah.
Anjing
Anjing
Remy Silado
Kalau kau
memujiku awet muda
kau
menyamakan aku bagai anjing
Sebab
anjing dari kecil sampai tua
wajahnya
hanya anjing dan tetap anjing.
Jerit Sandal Jepit
Remy Silado
Di
celah-celah sudut sempit terhimpit
Manusia
seperti sandal jepit menjerit-jerit
Pohon-pohon
pun tertawa
Tertawa
melihat manusia
ia kembali
bersujud
Jiwa
terasing dalam dunia bising
Diinjak,
remak, permak
Lalu kiamat
Ia tamat
Lalu, ia
kembali bersujud
Di
celah-celah sudut sempit terhimpit
Manusia
seperti sandal jepit menjerit-jerit
Pohon-pohon
pun tertawa
Tertawa
melihat manusia.
Subscribe to:
Posts (Atom)